Who Knows
HUJAN. Terlihat sempurna dikala kali pertama merasakan indahnya jatuh cinta. Mungkin aku, Si Kecil, tak merasakan begitu derasnya sore itu. Pakaian yang ku kenakan masih sama bahkan belum berubah warna. Tapi tidak demikian untuk seseorang yang berada di sampingnya. Jaket yang selalu membalutnya berpindah kepada Si Kecil-nya. Beberapa kali terdengar keluhan Si Kecil "Hey, aku tak dapat melihat dengan jelas." bahkan "Aku hampir tak bisa bernapas". Bagaimana tidak, jaket hitam menelan habis dirinya dan hanya terlihat ujung sepatunya. Tapi apa yang terjadi? Lelaki yang jalannya sedikit membungkuk tersebut justru mempercepat laju kakinya dan tak menghiraukan apa yang ia ucapkan dan apa yang ia keluhkan. Seolah-olah ada yang membisikkan pada dirinya, "Tenanglah... Sebentar lagi kita akan sampai. Bersabarlah, Kecil". Ia pun mencoba sedikit tenang dan kembali mengikuti langkah kaki lelaki tersebut.
MATAHARI. Ku temukan kau hingga pada tahun ke-3 ku yang tanpa ku sadari bahwa ku telah mengikat sebuah janji tentang ku dan dirinya pada seorang sahabat. Menunggu. Ya, menunggu dirinya untuk hadir ke dalam hari-hariku. Entah sampai kapan, aku pun tak tahu.
Selama itu pula, aku bergelut denganmu, matahari. Aku sempat berfikir untuk melupakannya. Yaa.. rasa-rasanya aku cukup berhasil dalam kurun waktu 1-2 tahun tapi tidak untuk hari ulangtahunnya. Aku selalu menyempatkan untuk mengirim sebuah pesan singkat (karna hanya itu yang bisa ku lakukan). Sekadar balasan "terimakasih" yang ku terima, namun sayang, tidak juga ku dapatkan 2 kali dalam 2 tahun ini.
PELANGI. "Jika hujan bagai kesulitan, matahari bagai kebahagiaan, kita membutuhkan keduanya untuk bisa melihat pelangi." Ya, kau hadir di saat yang tak terduga. Setelah Illahi mendatangkan hujan dan matahari silih berganti, Beliau mempertemukanku padamu, pelangi. Kau biarkan kami bersendagurau, biarkan kami berkelana ke masa lampau, dan bercerita tentang kami. Aku begitu menyukai sebuah pelangi. Kuasa Illahi memang bisa menciptakan spektrum warna yang begitu banyak dan begitu luas hingga bisa dinikmati di beberapa tempat. Tapi entah mengapa, berbeda dengan dia. "Pelangi tak seindah yang kau bayangkan karenanya ia hanya berupa spektrum-spektrum cahaya yang dibiaskan oleh pantulan air laut belaka", mungkin itulah kiranya kata-kata yang aku ingat darinya melalui akun facebook miliknya. Kelak saat itu pula, aku tak pernah berkomentar sedikit pun tentang pelangi pada dirinya. Semakin membuatku bosan (lagi).
BINTANG. Tak selalu ku temui kau dalam kesendirian ku menghabisi malam. Seperti apa yang dapat ku lihat, kau kecil sama seperti diriku. Namun engkau mampu menerangi jiwa ini, tak seperti aku. Aku tak pernah bisa menguasai di kala ku temukan diriku dalam kesendirian.
BULAN. Ingatanku masih bulat tentang kisah cerita-cerita kuno ku. Tapi tekadku berubah menjadi sabit layaknya engkau yang pernah ku lihat beberapa hari yang lalu. Entahlah apa yang terjadi akhir-akhir ini. Aku sendiri pun tak mengerti dan takkan pernah ingin mengerti. Detik berganti menit mencoba menghapus semua bayang dan angan tentangmu. Namun rumput liar terkadang tumbuh seketika memenuhi halaman depan rumahku. Terkurai senyum sinis enggan membiarkanku sendiri. Mereka bersuara, aku ini seperti jinak-jinak merpati. Tak ingin dipandang bahkan disentuh sekalipun. Pada saat itulah, ku temukan diriku telah menafikkan jiwa kecil ini.
*Catatanku :
Hujan, kau berikan arti sebuah perlindungan. Namun seolah kau berikan celah kepada mereka.
MATAHARI. Ku temukan kau hingga pada tahun ke-3 ku yang tanpa ku sadari bahwa ku telah mengikat sebuah janji tentang ku dan dirinya pada seorang sahabat. Menunggu. Ya, menunggu dirinya untuk hadir ke dalam hari-hariku. Entah sampai kapan, aku pun tak tahu.
Selama itu pula, aku bergelut denganmu, matahari. Aku sempat berfikir untuk melupakannya. Yaa.. rasa-rasanya aku cukup berhasil dalam kurun waktu 1-2 tahun tapi tidak untuk hari ulangtahunnya. Aku selalu menyempatkan untuk mengirim sebuah pesan singkat (karna hanya itu yang bisa ku lakukan). Sekadar balasan "terimakasih" yang ku terima, namun sayang, tidak juga ku dapatkan 2 kali dalam 2 tahun ini.
Memasuki akhir tahun ke-3 ...
Semakin lama semakin sering ku jumpai kau dalam setiap langkah kaki ku selama aku melewati koridor sekolah. Kiranya hanyalah sebuah pesan singkat, seharusnya cukup singkat pula menyat hatiku. Tapi sayang, lagi lagi dan lagi, tidak lagi untuk saat ini. Panggilan tak terjawab pun selalu mengusik aktivitasku. "Datanglah padaku dengan sopan dan pastikan, aku akan menyambutmu dengan seperti itu juga", rintihku dalam kekosongan jiwa ini. Aku pun kembali teringat akan memori masa lalu. Betapa miris dan ironisnya kisah cerita-cerita lamaku. Pertemuan yang baik namun tak dapat ku terima dengan baik pada akhirnya. Tak semestinya kita seperti ini. Aku mengenalimu benar seperti halnya engkau mengenaliku namun seolah-olah kita ini tak pernah bertemu bahkan tak mengenali satu sama lain. Mengapa jadi rumit seperti ini? Membuatku bosan dengan semua yang terjadi.
*Catatanku :
Matahari, sinar cerahmu tiada yang mampu menandingi hingga mampu membuat gerah orang-orang yang kau temui.PELANGI. "Jika hujan bagai kesulitan, matahari bagai kebahagiaan, kita membutuhkan keduanya untuk bisa melihat pelangi." Ya, kau hadir di saat yang tak terduga. Setelah Illahi mendatangkan hujan dan matahari silih berganti, Beliau mempertemukanku padamu, pelangi. Kau biarkan kami bersendagurau, biarkan kami berkelana ke masa lampau, dan bercerita tentang kami. Aku begitu menyukai sebuah pelangi. Kuasa Illahi memang bisa menciptakan spektrum warna yang begitu banyak dan begitu luas hingga bisa dinikmati di beberapa tempat. Tapi entah mengapa, berbeda dengan dia. "Pelangi tak seindah yang kau bayangkan karenanya ia hanya berupa spektrum-spektrum cahaya yang dibiaskan oleh pantulan air laut belaka", mungkin itulah kiranya kata-kata yang aku ingat darinya melalui akun facebook miliknya. Kelak saat itu pula, aku tak pernah berkomentar sedikit pun tentang pelangi pada dirinya. Semakin membuatku bosan (lagi).
*Catatanku :
Pelangi, jika ku boleh berkata, engkau memang indah bagi Si Kecil. Tapi sayang, karna engkau pula-lah, Si Kecil berhenti berharap bisa melihat mu dalam setiap kegalauan hatinya.BINTANG. Tak selalu ku temui kau dalam kesendirian ku menghabisi malam. Seperti apa yang dapat ku lihat, kau kecil sama seperti diriku. Namun engkau mampu menerangi jiwa ini, tak seperti aku. Aku tak pernah bisa menguasai di kala ku temukan diriku dalam kesendirian.
*Catatanku :
Bintang, aku mewakili Si Kecil dan biarkan ku berkata padamu, "Bintang terang, mampukah aku setegar engkau dalam kesendirian?"BULAN. Ingatanku masih bulat tentang kisah cerita-cerita kuno ku. Tapi tekadku berubah menjadi sabit layaknya engkau yang pernah ku lihat beberapa hari yang lalu. Entahlah apa yang terjadi akhir-akhir ini. Aku sendiri pun tak mengerti dan takkan pernah ingin mengerti. Detik berganti menit mencoba menghapus semua bayang dan angan tentangmu. Namun rumput liar terkadang tumbuh seketika memenuhi halaman depan rumahku. Terkurai senyum sinis enggan membiarkanku sendiri. Mereka bersuara, aku ini seperti jinak-jinak merpati. Tak ingin dipandang bahkan disentuh sekalipun. Pada saat itulah, ku temukan diriku telah menafikkan jiwa kecil ini.
*Catatanku :
Bulan, tak ada kata yang dapat aku lontarkan padamu malam ini. Izinkanlah aku masuk ke dalam rumah dan mengambil air wudhu. Membasuh sekujur auratku dan bersujud pada-Nya. Menduduk dan berdoa, "Ya Rabb, janganlah Engkau kurangi beban yang ada pada pundaknya tapi berikanlah ia punggung yang kuat untuk memikul beban yang kau berikan padanya. Aku tahu Engkau takkan pernah bosan pada umat-Mu. Temani ia, tuntunlah ia, temukan lagi mereka dalam dekapan dan ridho-Mu, Ya Allah..."
Komentar
Posting Komentar