September LimaBelas

Akhirnya Ia Mengatakan,
"Aku Mencintaimu"

Ketika aku menatap ke dalam matanya
Dan menemukan tatapan kerinduannya
Aku menahan diri tak mengucapkan kata-kata
Yang akan menunjukkan sedalam apa perasaanku
Ku angkat tanganku ke wajahnya
Untuk menahan perasaanku di dalam
Aku takkan mengucapkan kata-kata itu lagi
Untuk menunjukkan cintaku padanya
Terakhir kali aku memberitahunya
Betapa berartinya ia bagiku
Ia menepiskan tanganku dari tangannya
Dan memintaku jangan mengganggunya
Aku tak pernah mengucapkan kata-kata itu lagi
Khawatir pada ketakutannya yang dalam
Ku pikir itulah yang terakhir kali
Sampai malam penuh kebahagiaan itu
Jemarinya menelusuri seluruh wajahku
Menyibakkan helai-helai rambut
Dan aku tidak siap
Mendengar apa yang akan dikatakannya
Jantungku berdetak cepat, kepalaku berputar kencang
Ku pikir aku akan menangis
Ia terlihat seolah akan pingsan -
Bayangkan pemuda kuat ini
Tapi aku takkan pernah lebih terkesan
Dengan semua yang dilakukannya
Daripada ketika ia mengambil lompatan penuh perasaan itu
Dan memberitahuku, "Aku mencintaimu."

Jennifer Orendach


Sebuah kutipan dari buku Chicken Soup For The Soul Teenage III mengingatkan ku akan sosok kehadirannya dalam hari-hari ku. Tepat 7 November yang lalu, usianya genap berumur 18 tahun. Entah apa yang ada dalam isi otaknya [saat itu], pesan singkat yang ku tulis dan ku kirimkan padanya tak ia balas. Sekadar kata "terimakasih" saja, bagi ku itu sudah lebih dari cukup. Mungkin bagi segelintir orang, ucapan "terimakasih" , "maaf" , dan "tolong" itu hanya sepele yang mana tidak penting untuk dilontarkan.  Tetapi jika mereka tahu betapa dalamnya arti satu kata singkat itu, mungkin mereka takkan meremehkannya lagi. Ya, memberikan rasa hormat kepada seseorang walaupun usianya terpaut jauh di bawah kita. Tapi apa daya? Dia tak berkata apa-apa. "Tuhan, pertemukan kami [kembali] dengan skenario-Mu yang indah itu," pintaku saat itu. (23082010)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

J O D O H

Who Knows

My Besties